Oleh: padiya08 | November 19, 2008

MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH

Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey, yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri

A. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan, 2002 : 123).

Menurut Arends (1997), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain, seperti “pembelajaran berdarkan proyek (project-based instruction)”, ” pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”, “belajar otentik (authentic learning)” dan ”pembelajaran bermakna (anchored instruction)”.

B. Ciri-ciri khusus Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Menurut Arends (2001 : 349) berbagai pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik, 1999; Krajcik, Blumenfeld, Marx, & soloway, 1994; Slavin, Maden, Dolan, & Wasik, 1992, 1994; Cognition & Technology Group at Vanderbilt, 1990).

1. Pengajuan pertanyaan atau masalah.

Bukannya mengorganisasikan di sekitar prisip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.

2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.

Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Sebagai contoh, masalah polusi yang dimunculkan dalam pelajaran di teluk Chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan.

3. Penyelidikan autentik.

Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpul dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu, metode penyelidikan yang digunakan, bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari.

4. Menghasilkan produk dan memamerkannya.

Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat seperti pada pelajaran ”Roots and wings”. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer. Karya nyata dan peragaan seperti yang akan dijelaskan kemudian, direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah.

5. Kolaborasi.

Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan ketrampilan berfikir.

C. Manfaat Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa Pembelajaran berda- sarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemam -puan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim, 2000 : 7).

Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya.

D. Langkah-langkah Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa

Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Tahap-1
Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan
masalah yang dipilih

Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Tahap-3
Membimbing penye lidi kan individual maupun kelompok.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya

Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
(Sumber: Ibrahim, 2000 : 13)

Sumber : http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/model-pembelajaran-berdasarkan-masalah.html

Oleh: padiya08 | November 19, 2008

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

 

A.   PENGERTIAN

Istilah model pemelajaran dibedakan dari istilah strategi, metode, atau prinsip pemelajaran. Istilah model pemelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi,  metode, atau prosedur.

Model pemelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu : 

1.        rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,

2.        tujuan pemelajaran yang akan dicapai,

3.        tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan

4.        lingkungan belajar  yang diperlukan agar tujuan pemelajaran itu dapat tercapai.

 

Istilah model pemelajaran meliputi pendekatan suatu model pemelajaran yang luas dan menyeluruh. Contohnya pada model pemelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pemelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pemelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pemelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pemelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

 

Model-model pemelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pemelajarannya, pola urutannya (sintaks) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pemelajaran langsung, suatu model pemelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.

Yang dimaksud dengan sintaks (pola urutan) dari suatu model pemelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pemelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pemelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pemelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contohnya, setiap model pemelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pemelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran yang didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran. Kegiatan merangkum dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.

 

Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, pada model pemelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pemelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan pada model pemelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.

Pada model pemelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pemelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru.

 

 

B.    RAGAM MODEL PEMELAJARAN

1.   Model Pemelajaran Langsung

Model pemelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

Pemelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan erat dengan model pemelajaran langsung.

Pemelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas. Pemelajaran langsung berpusat pada guru, tetapi harus tetap menjamin keterlibatan siswa. Jadi lingkungan belajar harus diciptakan yang berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan kepada siswa.

 

Ciri-ciri pemelajaran langsung :

a.        Adanya tujuan pemelajaran dan prosedur penilaian hasdil belajar.

b.        Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pemelajaran

c.        Sistem pengelolaan dan lingkungan

       belajar yang mendunkung berlangsung  dan berhasilnya pemelajaran.

 

Pada model pemelajaran langsung terdapat fase-fase yang penting. Pada awal pemelajaran guru menjelaskan tujuan, latar belakang pemelajaran, dan juga menyiapkan siswa untuk memasuki materi baru dengan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimiliki siswa yang relevan dengan materi yang akan dipelajari (apersepsi). Fase ini dilakukan untuk memberi motivasi pada siswa untuk berperan penuh pada proses pemelajaran.

Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi materi ajar atau demonstrasi mengenai ketrampilan tertentu. Pada fase mendemonstrasikan pengetahuan, hendaknya guru memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, sehingga akan memberi dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan latihan dan memberi umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yasng telah dipelajarinya dalam kehidupan nyata. 

 

Fase-fase tersebut dapat disajikan dalam tabel berikut ini.

 

Fase dan Peran Guru dalam Pemelajaran langsung

 

Fase

 

 

Peran Guru

 

1.      Menyampaikan tujuan  

     dan

mempersiapkan       siswa

 

Menjelaskan tujuan pemelajaran, materi prasyarat, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa (apersepsi)

 

2.  Mendemonstrasikan

     pengetahuan dan

     keterampilan

Mendemonstrasikan ketrampilan atau menyajikan informasi tahap demi tahap

 

2.      Membimbing 

      pelatihan

Guru memberi latihan terbimbing

5.   Mengecek 

pemahaman dan

     memberikan umpan 

     balik

Mengecek kemampuan siswa dan memberikan umpan balik

6.   Memberikan latihan

     dan    penerapan 

     konsep

 

Menyiapkan latihan untuk siswa dengan menerapkan konsep yang dipelajari pada kehidupan sehari-hari

Seperti telah dijelaskan diatas bahwa pemelajaran langsung akan terlaksana dengan baik jika dirancang dengan baik.

Ciri utama yang dapat terlihat pada saat melaksanakan pemelajaran langsung adalah sebagai berikut:

 

1).  Tugas perencanaan

a.  Merumuskan tujuan pemelajaran

b.  Memilih isi/materi

Guru harus mempertimbangkan berapa banyak informasi yang akan   diberikan kepada siswa dalam kurun waktu tertentu.

Guru harus selektif dalam memilih konsep yang akan diajarkan dengan model pemelajaran langsung

c.  Melaksanakan analisis tugas

Dengan menganalisis tugas, akan membantu guru menentukan dengan tepat apa yang akan dilakukan siswa untuk melaksanakan keterampilan yang akan dipelajari. Namun demikian tidak berarti bahwa guru harus selalu melakukan analisis tugas, karena waktu yang tersedia terbatas.

d. Merencanakan waktu

Guru harus memperhatikan bahwa waktu yang tersedia sepadan dengan kemampuan, bakat siswa, dan motivasi siswa agar mereka melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal. Mengenal secara baik siswa-siswa yang akan diajar akan bermanfaat sekali dalam memperkirakan alokasi waktu yang diperlukan dalam pemelajaran.

 

2).  Penilaian pada model pemelajaran langsung.

Sistem penilaian menurut Gronlund (1982) meliputi 5 prinsip dasar yang dapat dipergunakan guru dalam merancang pemelajaran langsung dan sistem penilaiannya, yaitu :

a.  Sesuai dengan tujuan pemelajaran

b.  Mencaskup semua tugas pemelajaran

c.  Menggunakan soal tes yang sesuai

d.  Buatlah soal yang valid dan reliabel

e.  Manfaatkan hasil tes untuk perbaikan  proses pemelajaran  berikutnya.

 

2.   Model Pemelajaran Kooperatif

Pemelajaran kooperatif merupakan suatu pemelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pemelajaran.  Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuik mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pemelajaran kooperatif adalah utnuk membangkitkan interaksi yang efektif diantara anggota kelompok melalui diskusi. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pemelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.

 

Ciri-ciri pemelajaran kooperatif.

Menurut Stahl (1994) dalam bukunya Ismail (2003), ciri-ciri pemelajaran kooperatif adalah:

1).  belajar dengan teman

2).  tatap muka antar teman

3).  mendengarkan antar anggota

4).  belajar dari teman sendiri dalam kelompok

5).  belajar dalam kelompok kecil

6).  produktif berbicara atau mengemukakanpendapat/gagasan

7).  siswa membuat keputusan, dan

8).  siswa aktif

 

 

Sedangkan menurut Johnson (1984) belajar kooperatif mempunyai ciri-ciri:

1).  saling ketergantungan yang positif

2).  dapat dipertanggungjawabkan secara individu

3).  heterogin

4).  berbagi kepepimpinan

5).  berbagi tanggungjawab

6).  ditekankan pada tugas dan kebersamaan

7).  mempunyai keterampilan dalam berhubungan sosial

8).  guru mengamati, dan

9).  efektivitas tergantung pada kelompok

 

Dengan demikian dapat diringkas bahwa pemelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1).  Siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar,  mengemukakan pendapat, dan membuat keputusan secara bersama

2). Kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan       tinggi, sedang, dan rendah

3). Jika dalam kelas terdapat siswa-  siswa yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam setiap kelompok pun terdapat terdapat ras, suku, agama, dan jenis kelamin yang berbeda pula.

4).  Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada kerja perorangan.

 

Proses pemelajaran dengan model pemelajaran kooperatif dimulai dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil (3 – 5 siswa per kelompok). Setiap siswa ditempatkan di dalam kelas sedemikian rupa sehingga antara anggota kelompok dapat belajar dan berdiskusi dengan baik tanpa mengganggu kelompok yang lain. Guru membagi materi pelajaran, baik berupa lembar kerja siswa, buku, atau penugasan. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan pemelajaran yang ingin dicapai dan memberikan pengarahan tenatng materi yang harus dipelajari dan permasalahan-permasalahan yang harus diselesaikan. Siswa secara sindiri-sendiri mempelajari materi pelajaran, dan jika ada kesulitan mereka saling berdiskusi dengan teman-temannya dalam kelompok. Untuk menguasai materi pelajaran atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, setiap siswa dalam kelompok ikut bertanggungjawab secara bersama, yakni dengan cara berdiskusi, saling tukar ide/gagasan, pengetahuan dan pengalaman, demi tercapainya tujuan pemelajaran secara bersama-bersama.

 

Evaluasi dilakukan berdasarkan pencapaian hasil belajar komulatif dalam kelompok. Kemampuan atau prestasi setiap anggota kelompok sangat menentukan hasil pencapaian belajar kelompok. Untuk itu penguasaan materi pelajaran setiap siswa sangat ditekankan dalam pemelajaran kooperatif.

Guru melakukan pemantauan terhadap kegiatan belajar siswa, mengarahkan keterampilan kerjasama, dan memberikan bantuan pada saat diperlukan.

Aktifitas belajar berpusat pada siswa, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan dinamisator. Dengan model pemelajaran kooperatif diharapkan siswa dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal dengan cara berpikir aktif dan kreatif dalam proses pemelajaran.

 

1).  Tujuan Pemelajaran Kooperatif

Pengelolaan pemelajaran dengan model pemelajaran kooperatif, paling tidak ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yaitu :

 

a.   Hasil belajar akademik

Pemelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model pemelajaran kooperatif unggul dlam membantu siswa yang sulit.

b.   Pengakuan adanya keragaman

Model pemelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan ras, suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial.

c.   Pengembangan keterampilan sosial

Model Pemelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pemelajaran kooperatif antara lain adalah : berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.

 

Dalam model pemelajaran kooperatif terdapat enam langkah utama, yang dimulai dengan langkah guru menyampaikan tujuan pemelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar, hingga diakhiri dengan langkah memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.

Selanjutnya langkah – langkah pemelajaran kooperatif dari awal hingga akhir dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Langkah-langkah model pemelajaran kooperatif.

 

Fase

 

Indikator

 

Kegiatan guru

1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pemelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif

2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan

3

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas

5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok

6

Memberi penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

 

Apabila diperhatikan langkah-langkah model pemelajaran kooperatif pada tabel diatas maka tampak bahwa proses demokrasi dan peran aktif siswa di kelas sangat menonjol dibandingkan dengan model pemelajaran yang lain.

 

2).  Pelaksanaan Pemelajaran Kooperatif di Kelas

Seperti halnya pada model pemelajaran langsung, dalam model pemelajaran kooperatif juga diperlukan tugas perencanaan, misalnya menentukan pendekatan yang tepat, memilih topik yang sesuai, pembentukan kelompok siswa, menyiapkan LKS atau panduan belajar siswa, mengenalkan siswa kepada tugas dan perannya dalam kelompok, merencanakan waktu dan tempat yang akan dipergunakan.

Seperti telah dikemukakan di atas, salah satu tugas guru dalam model pemelajaran kooperatif ini adalah memilih pendekatan yang sesuai dengan tujuan akan dicapai.

 

Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam model pemelajaran kooperatif ini, yaitu : 

a. tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions),

b. tipe JIGSAW,

c. tipe Investigasi Kelompok atau Kelompok Penyelidikan, dan

d. tipe Pendekatan Struktural

 

Berikut ini ditunjukkan perbandingan diantara keempat pendekatan tersebut.

Perbandingan pendekatan STAD dan JIGSAW dalam pemelajaran kooperatif

Pendekatan

Unsur

STAD

JIGSAW

Tujuan Kognitif

Informasi akademik sederhana

Informasi akademik sederhana

 

Tujuan Sosial

Kerjasama dalam kelompok

Kerjasama dalam kelompok

 

Struktur Kelompok

Kelompok heterogen dengan 4-5 anggota

Kelompok heterogen dengan 5-6 anggota dan  menggunakan kelompok asal dan ahli

 

Pemilihan Topik

Biasanya guru

Biasanya guru

 

Tugas Utama

Siswa dapat menggunakan LKS dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya

Siswa mempelajari materi dalam kelompok ahli kemudian membantu anggota kelompok asal mempel;ajari materi tersebut.

 

Penilaian

Tes mingguan

Bervariasi, misalnya tes mingguan

Pengakuan

Lembar pengakuan dan publikasi lain

Publikasi lain

Perbandingan pendekatan Kelompok Penyelidikan  dan  Pendekatan Struktural

 

Pendekatan Unsur

 

Kelompok Penyelidikan

 

Pendekatan Struktural

 

Tujuan Kognitif

Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri

Informasi akademik sewderhana

Tujuan Sosial

Kerjasama dalam kelompok kompleks

Keterampilan kelompok dan sosial

Struktur Kelompok

Kelompok belajar homogen dengan 5 – 6 orang anggota

Bervariasi berdua, bertiga, kelompok dengan

4 – 6 orang anggota

 

Pemilihan Topik

Biasanya siswa

Biasanya guru

 

Tugas Utama

Siswa menyelesaikan inkuiri kelompok

Siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan baik sosial maupun kognitif

Penilaian

Menyelesaikan proyek dan membuat laporan, dapat menggunakan tes essay

Bervariasi

Pengakuan

Lembar pengakuan dan publikasi lain

Bervariasi

 

Namun perlu diketahui juga bahwa sebelum pemelajaran kooperatif dimulai, sebaiknya kepada siswa diperkenalkan terlebih dahulu apa itu pemelajaran kooperatif dan bagaimana aturan-aturan yang harus diperhatikan.

 

Agar pemelajaran dapat berjalan lancar, sebaiknya kepada siswa diberitahukan petunjuk-petunjuk tentang apa yang akan dilakukan. Petunjuk-petunjuk tersebut antara lain adalah :

                 a.  Tujuan pemelajaran

a.      Apa saja yang akan dikerjakan siswa dalam kelompok

b.      Batas waktu untuk menyelesaikan tugas

c.      Jadwal pelaksanaan kuis untuk STAD dan JIGSAW

d.      Jadwal presentasi kelas untuk Kelompok Penyelidikan

e.      Prosedur pemberian nilai perbandingan individu dan kelompok

f.        Format presentasi laporan

 

Selain hal di atas, perlu juga diketahui bagaimana cara membentuk kelompok, pedoman penilaian, dan sistem penghargaan.

 

Pengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan akademik

 

Kemampuan

No.

Nama

Rangking

Kelompok

Tinggi

1

 

1

A

2

 

2

B

3

 

3

C

4

 

4

D

Sedang

5

 

5

D

6

 

6

C

7

 

7

B

8

 

8

A

9

 

9

A

10

 

10

B

11

 

11

C

12

 

12

D

Rendah

13

 

13

D

14

 

14

C

15

 

15

B

16

 

16

A

 

Prosedur Penentuan Nilai Perkembangan Siswa

 

Tahap

 

Indikator

Operasional

1

Menetapkan skor dasar

Setiap siswa diberi skor berdasarkan skor kuis yang lalu

2

Menghitung skor kuis terkini

Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini

3

Menghitung skor perkembangan

Siswa mendapatkan poin perkembangan

Yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini merreka menyamai atau melebihi skor dasar mereka, dengan menggunakan aturan seperti di bawah ini

Kriteria

Nilai perkembangan

Lebih dari 10 poin dibawah skor dasar

0 poin

10 poin dibawah sampai 1 poin dibawah skor dasar

10 poin

 

Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar

20 poin

Lebih dari 10 poin di atas skor dasar

30 poin

Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar)

30 poin

 

Pengelompokkan siswa Berdasarkan Kemampuan Akademik

 

Materi

…………………………………………………..

Kelompok

Nama

Nilai Dasar

Nilai Kuis

Nilai Perkembangan

A

Ami

90

100

30

Ani

85

82

10

Tata

65

70

20

Didu

55

40

0

Total

60

Rata-rata kelompok

60 : 4 =  15

Penghargaan

BAIK

B

Ike

95

100

30

Oki

80

82

10

Jaka

70

70

20

Wati

40

100

30

Total

90

Rata-rata kelompok

90 : 4 =  22,5

Penghargaan

HEBAT

Nilai kelompok(N)

15<N<20

20<N<25

N>25

Penghargaan

BAIK

HEBAT

SUPER

 

 

      3.  Model Pemelajaran Berdasarkan

                 Masalah

Ciri-ciri utama pemelajaran berdasarkan masalah adalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan keterkaitan antar disiplin. Penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan. Pemelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa.

 

Pemelajaran berdasarkan masalah bertujuan :

1). Membantu siswa mengembangkan  keterampilan berpikir dan  keterampilan pemecahan masalah

2).  Belajar peranan orang dewasa yang autentik

3).  Menjadi pemelajar yang mandiri

 

Pada model pemelajaran berdasarkan masalah terdapat lima tahap utama yang dimulai dengan tahap memperkenalkan siswa dengan suatu masalah dan diakhiri dengan tahap penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Kelima langkah dari model pemelajaran berdasarkan masalah dapat dilihat pada tabel berikut ini.

 

Langkah-langkah Model Pemelajaran Berdasarkan Masalah

Fase

Indikator

 

Kegiatan Guru

 

1

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pemelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif dan kreatif dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya

2

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai  dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiuapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya

5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

 

 

1).  Pelaksanaan Pemelajaran Berdasarkan Masalah

a.   Tugas -Tugas Perencanaan

Karena hakekat interaktifnya, model pemelajaran berdasarkan masalah membutuhkan banyak perencanaan, seperti halnya model-model pemelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.

a)   Penetapan tujuan

Model pemelajaran berdasarkan masalah dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan seperti keterampilan menyelidiki, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pemelajar yang mandiri. Dalam pelaksanaanya pemelajaran berdasarkan masalah bisa saja diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

b)   Merancang situasi masalah

Beberapa guru dalam pemelajaran berdasarkan masalah lebih suka memberi kesempatan dan keleluasaan kepada siswa untuk memilih masalah yang akan diselidiki, karena cara ini dapat meningkatkan motivasi siswa. Situasi masalah yang baik seharusnya autentik, mengandung teka-teki, dan tidak didefinisikan secara ketat, memungkinkan kerjasama, bernakna bagi siswa, dan konsisten dengan tujuan kurikulum.

c)   Organisasi sumber daya dan

       rencana logistik

Dalam pemelajaran berdasarkan masalah siswa dimungkinkan berkerja dengan beragam material dan peralatan, dan dalam pelaksanaanya bisa dilakukan di dalam kelas, di perpustakaan, atau di laboratorium, bahkan dapat pula dilakukan di luar sekolah. Oleh karena itu tugas mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan kebutuhan untuk penyelidikan siswa, haruslah menjasi tugas perencanaan yang utama bagi guru yang menerapkan pemelajaran berdasarkan pemecahan masalah.

 

b.  Tugas  Interaktif

a)  Orientasi Siswa pada Masalah

  Siswa perlu memahami bahwa tujuan pemelajaran berdasarkan masalah adalah tidak untuk memperoleh inforemasi baru dalam jumlah besar, tetapi utnuk melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah penting dan untuk menjadi pemelajar yang mandiri. Cara yang baik dalam menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dalam pemelajaran berdasarkan masalah adalah dengan menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan misteri sehingga membangkitkan minat dan keinginan untuk  menyelesaikan masalah yang dihadapi.

b).  Mengorganisasikan Siswa Untuk

      Belajar.

Pada model pemelajaran berdasarkan masalah dibutuhkan pengembangan keterampilan kerjasama diantara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara bersama. Berkenaan dengan hal tersebut siswa memerlukan bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan. Bagaimana mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif berlaku juga dalam mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok pemelajaran berdasarkan masalah.

c).  Membantu Penyelidikan Mandiri

      dan Kelompok.

Ø      Guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagimana etika penyelidikan yang benar.

Ø      Guru mendorong pertukaran ide gagasan secara bebas dan penerimaan sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam tahap penyelidikan dalam rangka pemelajaran berdasarkan masalah. Selama dalam tahap penyelidikan guru memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa mengganggu aktifitas siswa.

Ø      Puncak proyek-proyek pemelajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah penciptaan dan peragaan artifak seperti laporan, poster, model-model fisik, dan video tape.

 

d). Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah

        Tugas guru pada tahap akhir pemelajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

 

c. Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Manajemen

Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa guru perlu memiliki seperangkat aturan yang jelas agar supaya pemelajaran dapat berlangsung tertib tanpa gangguan, dapat menangani perilaku siswa yang menyimpang secara cepat dan tepat, juga perlu memiliki panduan mengenai bagaimana mengelola kerja kelompok.

Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru dalam pengelolaan pemelajaran yang menggunakan model pemelajaran berdasarkan masalah adalah bagaimana menangani siswa baik individual maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal maupun yang terlambat.  Dengan kata lain kecepatan penyelesaian tugas tiap individu maupun kelompok  berbeda-beda. Pada model pemelajaran berdassarkan masalah siswa dimungkin untuk mengerjakan tugas multi (rangkap), dan waktu penyelesaian tugas-tugas tersebut dapat berbeda-beda. Hal tersebut mengakibatkan diperlukannya pengelolaan dan pemantauan kerja siswa yang  rumit.

Dalam model pemelajaran berdasarkan masalah, guru sering menggunakan sejumlah bahan dan peralatan,  dan hal ini biasanya dapat merepotkan guru dalam pengelolaannya. Oleh karena itu, untuk efektifitas kerja guru harus memiliki aturan dan prosedur yang jelas dalam pengelolaan, penyimpanan, dan pendistribusian bahan. Selain itu yang tidak kalah pentingnya, guru harus menyampaikan aturan, tata krama, dan sopan santun yang jelas untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar kelas termasuk di dalamya ketika melakukan penyelidikan di masyarakat.

 

d.   Asesmen dan Evaluasi

Seperti halnya dalam model pemelajaran kooperatif, dalam model pemelajaran berdasarkan masalah fokus perhatian pemelajaran tidak pada perolehan pengetahuan deklaratif, oleh karena itu tugas penilaian tidak cukup bila penilaiannya hanya dengan tes tertulis atau tes kertas dan pensil (paper and pencil test). Teknik penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pemelajaran berdasarkan masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil penyelidikan mereka.

Tugas asesmen dan evaluasi yang sesuai untuk model pemelajaran berdasarkan masalah terutama terdiri dari menemukan prosedur penilaian alternatif yang akan digunakan untuk mengukur pekerjaan siswa, misalnya dengan asesmen kinerja dan peragaan hasil.

 

Dalam implementasinya di lapangan,  model-model pemelajaran di atas bisa diterapkan secara sendiri-sendiri, dan bisa juga merupakan gabungan dari ke tiga model tersebut sesuai dengan sifat dan karakteristik dari materi yang akan dipelajari.

Kategori